Menjaga Hutan TNKS: Jejak Patroli di Sungai Sirah Air Haji

Kabut pagi masih menggantung tipis di antara pepohonan lebat Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) saat langkah pertama tim patroli mulai menembus rimba. Udara lembap menyelimuti, sementara tanah yang basah menyisakan jejak hujan semalam. Di tengah keheningan hutan, perjalanan panjang itu pun dimulai.

Apel pagi bersama tim patroli R.II.III.12

Selama lima hari, dari 2 hingga 6 Februari 2026, tim Balai Besar TNKS menyusuri kawasan Nagari Sungai Sirah Air Haji, Kecamatan Linggo Sari Baganti, Kabupaten Pesisir Selatan. Patroli ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari upaya nyata menjaga kelestarian salah satu benteng terakhir hutan tropis Indonesia.

Hutan TNKS menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa, namun di balik ketenangannya, ancaman tak pernah benar-benar hilang. Aktivitas perambahan, pembalakan liar, hingga berbagai bentuk pelanggaran kawasan terus membayangi. Oleh karena itu, setiap langkah patroli menjadi penting—untuk memastikan hutan tetap terlindungi.

Dalam pelaksanaannya, tim tidak bekerja sendiri. Masyarakat Mitra Polhut (MMP) turut ambil bagian, menjadi mitra strategis dalam menjaga kawasan. Pengetahuan lokal yang mereka miliki menjadi kekuatan tersendiri dalam membaca tanda-tanda di lapangan—jejak yang sering kali luput dari pandangan.

Pemasangan seng batas kawasan di nagari sungai sirah air haji

Sebelum memasuki kawasan, koordinasi dilakukan bersama pemerintah setempat, termasuk Wali Nagari. Setelah seluruh persiapan matang, patroli dilaksanakan menggunakan metode SMART Patrol, sebuah pendekatan berbasis data yang mengedepankan perencanaan dan efektivitas.

Namun, kondisi di lapangan tak selalu sejalan dengan rencana. Hujan turun tiba-tiba, jalur berubah licin, dan medan terjal menguji ketahanan fisik tim. Mereka bermalam di dalam hutan, ditemani gelapnya malam dan suara alam yang tak pernah benar-benar sunyi.

Di sela perjalanan, hutan seolah “berbicara”. Suara siamang bersahut-sahutan, kicauan burung menggema di antara pepohonan—pertanda kehidupan masih terjaga. Namun di sisi lain, jejak aktivitas manusia juga mulai terlihat.

Perjumpaan chainsaw 1 unit d nagari sungai sirah

Tim menemukan indikasi perambahan hutan serta kayu olahan yang diduga hasil pembalakan liar di kawasan penyangga. Sebuah mesin chainsaw turut diamankan, menjadi bukti nyata adanya aktivitas ilegal. Selain itu, jalur-jalur mencurigakan yang mengarah ke dalam kawasan juga ditemukan, membuka potensi ancaman yang lebih besar.

Selama patroli berlangsung, tim menjelajahi sekitar 318 hektar kawasan hutan dengan panjang jalur lebih dari 9 kilometer. Tidak hanya melakukan pengawasan, berbagai tindakan nyata juga dilakukan. Pemasangan papan batas kawasan menjadi penegasan hukum di lapangan. Kayu hasil illegal logging dimusnahkan, dan peralatan yang digunakan dalam aktivitas ilegal disita.

Tim patroli R.II.III.12 berhasil membawa 1 unit chainsaw

Lebih dari itu, pendekatan persuasif juga dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar. Sosialisasi dan dialog menjadi bagian penting, membangun kesadaran bahwa hutan bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga warisan yang harus dijaga bersama.

Perjalanan ini meninggalkan satu catatan penting: tekanan terhadap kawasan TNKS masih tinggi. Aktivitas ilegal belum sepenuhnya berhenti, dan akses ke dalam kawasan masih terbuka.

Namun demikian, harapan tetap ada. Selama patroli terus dilakukan, selama sinergi antara petugas dan masyarakat tetap terjaga, serta selama kesadaran akan pentingnya hutan terus tumbuh, maka peluang untuk menjaga kelestarian TNKS akan selalu terbuka.

Pada akhirnya, menjaga hutan bukan sekadar tugas atau tanggung jawab. Ia adalah upaya menjaga kehidupan—bagi hari ini, dan untuk generasi yang akan datang.

Check Also

Temu Ramah dan 3rd Kemah Rimbawan 2026 Perkuat Sinergi dan Semangat Konservasi

Padang,7 April 2026 — Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Sumatera Barat, Balai Besar Taman …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *