
Kawasan TNKS di wilayah Sumatera Barat memiliki kondisi biofisik yang beragam, mulai dari hutan dataran rendah hingga hutan pegunungan dengan ketinggian mencapai lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini merupakan habitat penting bagi berbagai jenis flora dan fauna khas Sumatera, termasuk satwa kunci seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), serta berbagai jenis rangkong, dan juga menjadi habitat bagi flora langka seperti Rafflesia dan bunga bangkai (Amorphophallus titanum).
Selain memiliki nilai konservasi yang sangat tinggi, kawasan TNKS juga berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area) yang penting bagi berbagai daerah aliran sungai di Sumatera. Kawasan ini menjadi hulu bagi beberapa sungai besar yang dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan domestik, pertanian, dan pembangkit listrik tenaga air. Oleh karena itu keberadaan dan kelestarian kawasan TNKS memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Dalam pelaksanaan pengelolaan kawasan, Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Sumatera Barat menghadapi berbagai tantangan seperti perambahan kawasan, konflik satwa dengan manusia, perburuan satwa liar, serta tekanan pemanfaatan sumber daya alam. Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, pengelolaan kawasan dilakukan melalui pendekatan perlindungan kawasan, pemulihan ekosistem, penguatan kemitraan dengan para pihak, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan taman nasional.
Dengan potensi keanekaragaman hayati yang tinggi serta fungsi ekologis yang sangat penting, Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Sumatera Barat memiliki peran strategis dalam menjaga kelestarian kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah Sumatera Barat.
Bidang II Taman Nasional Kerinci Seblat
