Pesisir Selatan, 6 Mei 2026 – Kabut tipis masih menyelimuti hutan ketika tim patroli mulai menyusuri jalur-jalur terjal di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Di balik rimbunnya pepohonan di tiga Nagari yang terdapat di Kabupaten Peisisr Selatan, tersimpan satu misi penting, memastikan habitat Harimau Sumatera tetap aman dari berbagai ancaman yang terus mengintai.
Pada akhir April 2026, Balai Besar TNKS bersama Flora & Fauna International (FFI) kembali melaksanakan kegiatan Monitoring SMART Lanskap Sumbar di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan. Kawasan ini bukan sekadar hamparan hutan biasa. TNKS merupakan bagian dari bentang alam konservasi harimau prioritas global atau Tiger Conservation Landscape, rumah penting bagi berbagai satwa liar khas Sumatera.

Di bawah komando Yuhardedi, tim gabungan yang terdiri dari Polisi Kehutanan dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) bergerak menyisir hutan menggunakan metode SMART Patrol (Spatial Monitoring and Reporting Tool). Dengan panjang jalur patroli mencapai 15,37 kilometer, tim menembus tujuh grid cell patroli yang mencakup area lebih dari 2.500 hektare.
Perjalanan di dalam hutan bukan hanya tentang berjalan menembus semak dan medan curam. Setiap jejak, suara, dan tanda kehidupan menjadi petunjuk penting bagi tim untuk membaca kondisi kawasan.
Di beberapa titik, tim menemukan jejak keberadaan Tapir Malaya, suara siamang yang bersahutan dari tajuk pohon, hingga tanda cakaran dan aktivitas satwa liar lainnya. Kehadiran Beruang Madu, Siamang, Kuau Raja, rangkong, elang, dan berbagai primata menjadi penanda bahwa kawasan ini masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa.




Namun di balik kehidupan liar yang masih bertahan, ancaman terhadap hutan juga terlihat nyata. Tim patroli menemukan sejumlah jerat satwa mangsa yang dipasang menggunakan tali. Di lokasi lain, ditemukan dua titik bekas aktivitas memikat burung, praktik yang sering menjadi pintu masuk perdagangan satwa liar ilegal. Tidak hanya itu, aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) juga masih dijumpai di dalam kawasan taman nasional.


Temuan-temuan tersebut menjadi pengingat bahwa tekanan terhadap habitat satwa liar masih terus terjadi. Aktivitas ilegal bukan hanya merusak hutan, tetapi juga mengganggu rantai kehidupan satwa yang bergantung pada kawasan konservasi ini.
Tanpa menunggu lama, tim langsung memusnahkan jerat yang ditemukan selama patroli. Kepada pelaku aktivitas PETI yang berpapasan di jalur patroli, petugas memberikan peringatan langsung mengenai larangan beraktivitas di dalam kawasan TNKS beserta konsekuensi hukumnya.

Bagi tim patroli, menjaga hutan tidak cukup hanya dengan pengawasan. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga masa depan kawasan konservasi. Karena itu, patroli berkelanjutan, edukasi kepada masyarakat, serta pemasangan papan larangan di titik-titik rawan akan terus diperkuat.
Di tengah derasnya ancaman terhadap hutan Sumatera, kawasan TNKS masih menyimpan harapan. Harapan bahwa suara siamang akan tetap terdengar di pagi hari, jejak tapir masih membekas di tanah basah, dan Harimau Sumatera tetap menjadi penguasa sunyi di rimba Kerinci Seblat.
Kontributor : Yuhardedi, Indra Kurnia, Irmanto, Diko Vulfa Mitra, Fajar Maulana
Penyunting : Fauzi, S.Si.
Bidang II Taman Nasional Kerinci Seblat
