Nadi Hijau Sumatera: Sinergi Balai Besar TNKS dan FFI dalam Kegiatan PHS Landscape Sumbar

Pesisir Selatan, 4 Mei 2026 –  Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di wilayah Sumatera Barat bukan sekadar hamparan hutan, melainkan ekosistem vital yang menopang kehidupan. Mengingat tingginya ancaman terhadap kawasan ini, Balai Besar TNKS secara konsisten melakukan pengamanan melalui Patroli SMART di Lanskap Sumatera Barat, khususnya di Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan.

Kolaborasi Strategis dengan Fauna & Flora International (FFI)

Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari kemitraan yang solid antara Balai Besar TNKS dengan Fauna & Flora International (FFI). Kerjasama ini mencakup berbagai aspek krusial bagi efektivitas perlindungan hutan:

  • Dukungan Teknis dan Pendanaan: FFI memberikan dukungan operasional yang memungkinkan tim patroli menjangkau area-area terpencil yang sulit diakses.
  • Implementasi Teknologi SMART: Bersama FFI, penggunaan aplikasi Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) dioptimalkan untuk memetakan ancaman secara real-time dan akurat.
  • Penguatan Kapasitas: Kemitraan ini membantu personel di lapangan, termasuk Polisi Kehutanan dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP), dalam meningkatkan keahlian identifikasi satwa dan navigasi hutan.

Temuan dan Aksi Nyata di Lapangan

Selama lima hari penyisiran jalur sepanjang 16,55 km, tim yang didukung oleh kemitraan FFI ini berhasil mengidentifikasi berbagai dinamika di dalam kawasan:

  1. Penindakan Gangguan: Tim menemukan 23 titik penebangan liar (illegal logging), 4 titik perambahan, dan 1 titik pemikat burung. Tindakan tegas langsung diambil dengan memusnahkan barang bukti kayu dan alat jerat di lokasi.
  2. Pemantauan Satwa: Meskipun fokus pada pengamanan, tim mencatat perjumpaan dengan satwa penting seperti Beruang Madu, Kuau, Kijang, dan Rangkong. Keberadaan satwa mangsa ini menjadi indikator penting bahwa kawasan tersebut masih menjadi habitat yang layak bagi Harimau Sumatera.
  3. Pemasangan Tanda Batas: Untuk mencegah perambahan lebih lanjut, tim memasang plat seng tanda batas kawasan TNKS di titik-titik rawan.
Gambar 1. Tanda satwa berupa cakaran beruang madu

Dedikasi ASN BerAKHLAK dalam Konservasi

Kegiatan kolaboratif ini menjadi panggung bagi ASN (Polisi Kehutanan dan Penyuluh Kehutanan) untuk menerapkan nilai-nilai BerAKHLAK, terutama nilai Kolaboratif. Dengan bekerja sama lintas organisasi—antara instansi pemerintah dan mitra internasional seperti FFI—target perlindungan ekosistem dapat dicapai secara lebih efisien dan terukur.

Melalui sinergi antara Balai Besar TNKS dan FFI, diharapkan tekanan terhadap hutan tropis Sumatera dapat diminimalisir, memastikan “Nadi Hijau” ini tetap berdenyut untuk generasi mendatang.

Temuan dan Aksi Nyata di Lapangan

Selama lima hari penyisiran jalur sepanjang 16,55 km, tim yang didukung oleh kemitraan FFI ini berhasil mengidentifikasi berbagai dinamika di dalam kawasan:

  1. Penindakan Gangguan: Tim menemukan 23 titik penebangan liar (illegal logging), 4 titik perambahan, dan 1 titik pemikat burung. Tindakan tegas langsung diambil dengan memusnahkan barang bukti kayu dan alat jerat di lokasi.
  2. Pemantauan Satwa: Meskipun fokus pada pengamanan, tim mencatat perjumpaan dengan satwa penting seperti Beruang Madu, Kuau, Kijang, dan Rangkong. Keberadaan satwa mangsa ini menjadi indikator penting bahwa kawasan tersebut masih menjadi habitat yang layak bagi Harimau Sumatera.
  3. Pemasangan Tanda Batas: Untuk mencegah perambahan lebih lanjut, tim memasang plat seng tanda batas kawasan TNKS di titik-titik rawan.
Gambar 2. Pemasangan Tanda Batas Kawasan TNKS

Dedikasi ASN BerAKHLAK dalam Konservasi

Kegiatan kolaboratif ini menjadi panggung bagi ASN (Polisi Kehutanan dan Penyuluh Kehutanan) untuk menerapkan nilai-nilai BerAKHLAK, terutama nilai Kolaboratif. Dengan bekerja sama lintas organisasi—antara instansi pemerintah dan mitra internasional seperti FFI—target perlindungan ekosistem dapat dicapai secara lebih efisien dan terukur.

Gambar 3. Tim 4 PHS melakukan Kegiatan di Lapangan

Melalui sinergi antara Balai Besar TNKS dan FFI, diharapkan tekanan terhadap hutan tropis Sumatera dapat diminimalisir, memastikan “Nadi Hijau” ini tetap berdenyut untuk generasi mendatang.

 

Kontributor : Mhd Rizki Dwa putra, S.H., Rahmad Fadli, S.E.,  Ari Wibowo, Darwan, Afrizal, dan Irpani Juniardi

Check Also

MENUMBUHKAN “PENJAGA RIMBA”: UPAYA MELESTARIKAN KERINCI SEBLAT DARI BUKIT BONTAK

Solok Selatan, 24 April 2026 – Di bawah naungan langit Camping Ground Bukit Bontak, sebuah langkah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *