Pesisir Selatan, 22 April 2026 – Limau Gadang Pancung Taba Kecamatan IV Nagari Bayang Utara Kabupaten Pesisir Selatan bukan sekadar titik di peta Pesisir Selatan, ia adalah gerbang menuju salah satu benteng hijau terakhir Sumatera, Taman Nasional Kerinci Seblat. Di sinilah, sekelompok masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Lestari Basamo mengukir cerita tentang keberanian, pelestarian, dan nafas ekonomi yang bergantung pada kemiringan lereng yang ekstrem.

Menembus Batas: Medan yang Menguji Nyali
Bagi anggota KTH Lestari Basamo, “pergi ke hutan” bukanlah sekadar jalan kaki santai. Perjalanan menuju kawasan kelola mereka di dalam TNKS adalah sebuah uji adrenalin yang nyata.
- Topografi Ekstrem: Jalur yang dilalui terdiri dari perbukitan curam dengan sudut kemiringan yang seringkali memaksa lutut bertemu dada.
- Hutan Hujan Tropis: Vegetasi yang rapat, akar-akar pohon yang melintang, hingga ancaman pacet dan cuaca yang cepat berubah menjadi santapan harian.
- Akses Terbatas: Seringkali, perjalanan memakan waktu berjam-jam melewati rintangan alam yang menuntut ketahanan fisik luar biasa.
Filosofi “Lestari Basamo”: Menjaga Sambil Menghidupi
Mengapa mereka berani menantang bahaya? Jawabannya terletak pada komitmen untuk mengubah paradigma.
Jika dulu hutan dianggap sebagai objek eksploitasi, kini KTH Lestari Basamo melihatnya sebagai warisan yang harus dijaga agar tetap bisa memberi manfaat.
Melalui skema kemitraan konservasi, kelompok ini berupaya mengelola kawasan tanpa merusak tegakan pohon. Fokus pengembangan mereka meliputi:
- Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK): Seperti budidaya tanaman yang tidak merusak ekosistem (misalnya kopi atau tanaman rempah di bawah naungan).
- Restorasi Mandiri: Menanam kembali area-area kritis dengan bibit pohon asli hutan endemik.
- Patroli Swadaya: Menjadi mata dan telinga bagi petugas TNKS untuk mencegah pembalakan liar dan perburuan satwa.

Tantangan dan Harapan di Puncak Bukit
Perjalanan menantang adrenalin ini bukan tanpa hambatan. Masalah logistik, sulitnya membawa hasil panen keluar dari medan yang sulit, hingga keterbatasan alat teknologi menjadi tantangan besar bagi kelompok ini.
Namun, semangat Nagari Pancung Taba tetap menyala. Mereka percaya bahwa dengan menjaga hulu, maka air di hilir akan tetap mengalir. Dengan menjaga pohon, tanah mereka takkan longsor.
“Kami tidak hanya mendaki bukit untuk mencari makan, kami mendaki untuk memastikan anak cucu kami masih bisa melihat rimbunnya TNKS dari teras rumah mereka.”
Kesimpulan: Lebih dari Sekedar Adrenalin
Perjalanan KTH Lestari Basamo mengajarkan kita bahwa konservasi adalah olahraga jantung. Ia memacu adrenalin saat melewati tebing, namun juga memberikan ketenangan saat melihat hutan tetap berdiri tegak. Nagari Pancung Taba, melalui kelompok ini, membuktikan bahwa manusia dan Taman Nasional bisa hidup berdampingan dalam harmoni yang tangguh.
Mari dukung perjuangan mereka dengan menjaga kelestarian alam TNKS!

Link Feed Instagram : https://www.instagram.com/p/DXY0QP0k2qB/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
Bidang II Taman Nasional Kerinci Seblat
