Sejarah Kawasan TNKS

Sejarah kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat di wilayah Sumatera Barat berawal dari gabungan sejumlah kawasan hutan lindung dan cagar alam di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan. Kawasan yang kini menjadi bagian TNKS di Sumatera Barat meliputi wilayah Pesisir Selatan, Solok, Solok Selatan, dan Dharmasraya.

Pada tahun 1982, pemerintah Indonesia melalui Menteri Pertanian mendeklarasikan calon Taman Nasional Kerinci Seblat dalam Kongres Taman Nasional Sedunia III di Bali. Saat itu, kawasan yang diusulkan merupakan gabungan 17 kelompok hutan, termasuk beberapa kawasan di Sumatera Barat seperti Hutan Lindung Bayang, Batanghari, Kambang, Sangir, Jujuhan, serta sebagian Cagar Alam Indrapura.

Kawasan-kawasan tersebut sebelumnya telah berstatus hutan lindung sejak masa kolonial sekitar tahun 1921–1926. Penetapan ini dilakukan untuk menjaga fungsi hidrologis Pegunungan Bukit Barisan sekaligus melindungi keanekaragaman hayati Sumatera bagian tengah. Seiring waktu, kawasan ini dikenal sebagai habitat penting berbagai satwa langka seperti harimau sumatra, tapir, beruang madu, dan aneka flora endemik.

Pada tahun 1996, pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 192/Kpts-II/1996 mengukuhkan kawasan TNKS seluas ±1,368 juta hektare. Kemudian pada tahun 1999, kawasan ini resmi ditetapkan menjadi Taman Nasional Kerinci Seblat melalui SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 901/Kpts-II/1999.

Di wilayah Sumatera Barat sendiri, TNKS memiliki luasan sekitar 348.125 hektare atau sekitar 25% dari total luas TNKS. Kabupaten Pesisir Selatan menjadi wilayah dengan cakupan kawasan terbesar, terutama pada bentang hutan pegunungan dan kawasan penyangga satwa liar.

Keberadaan TNKS di Sumatera Barat tidak hanya penting sebagai kawasan konservasi, tetapi juga sebagai sumber kehidupan masyarakat. Kawasan ini menjadi hulu berbagai daerah aliran sungai, sumber air pertanian, serta penyangga iklim dan bencana alam. Selain itu, TNKS juga menyimpan potensi wisata alam seperti Bukit Tapan, jalur pendakian Gunung Kerinci dari Solok Selatan, hingga kawasan hutan tropis dataran tinggi yang menjadi bagian dari Warisan Dunia UNESCO dalam Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *