
Solok Selatan, 30 April 2026 – Di bawah bayang-bayang megah Gunung Kerinci, tepatnya di Nagari Lubuk Gadang Selatan, aroma kopi dan tanah basah menyambut siapa saja yang datang. Namun, di balik keasrian lanskap setinggi 1.050 mdpl ini, tersimpan sebuah tantangan klasik yang butuh sentuhan hati untuk menyelesaikannya, Konflik Tenurial.
Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) bukan sekadar deretan pohon. Sebagai situs Warisan Dunia UNESCO, ia adalah benteng terakhir bagi keanekaragaman hayati Sumatera. Namun, tekanan ekonomi dan kebutuhan lahan sering kali membuat garis batas antara hutan konservasi dan area garapan warga menjadi kabur.
Mendengar aspirasi, Bukan Sekadar Mendata
Pada pertengahan April 2026, sebuah tim dari Balai Besar TNKS turun ke lapangan bukan membawa surat teguran, melainkan membawa semangat kolaborasi. Melalui kegiatan identifikasi dan verifikasi, petugas mencoba memotret realita di lapangan secara jernih. Siapa yang menggarap? Di mana lokasinya? Dan apa yang mereka tanam?
Pendekatannya pun tidak kaku. Melalui Focus Group Discussion (FGD) dan obrolan hangat di rumah-rumah warga, tim berusaha memahami bahwa di balik 91,68 hektare lahan garapan yang terdata, ada keringat 42 petani yang tergabung dalam KTH Belangir Sepakat yang bergantung hidup di sana.

Teknologi di Balik Rimbunnya Kopi
Memetakan konflik di tengah hutan membutuhkan akurasi tinggi. Tim tidak hanya berjalan kaki menembus rimbunnya tanaman kopi dan kayu manis, tetapi juga menggunakan teknologi terkini. Pantauan udara dari drone dan pemetaan koordinat melalui GPS menjadi saksi bisu upaya verifikasi ini.
Data menunjukkan bahwa sebagian besar lahan yang digarap warga berada di zona rehabilitasi dan didominasi oleh tanaman kopi, alpukat, hingga durian. Menariknya, analisis citra udara mengungkap area terbuka yang lebih luas, mencapai 175,09 hektare, yang berarti perjalanan menuju penyelesaian konflik masih merupakan jalan panjang yang harus ditempuh bersama-sama.

Menuju Solusi yang Memanusiakan
Zaman telah berubah. Penanganan konflik di kawasan konservasi kini tidak lagi mengedepankan cara-cara represif saja. Regulasi terbaru membuka pintu bagi solusi yang lebih humanis melalui skema kemitraan konservasi.
Kegiatan ini membuktikan bahwa konflik tenurial sering kali bukan soal niat merusak, melainkan soal keterbatasan akses. Dengan terbentuknya kelompok tani seperti KTH Belangir Sepakat, jembatan dialog mulai terbangun. Tujuannya satu: masyarakat bisa tetap sejahtera tanpa harus mengorbankan kelestarian paru-paru dunia.


Penutup: Tumbuh Bersama Hutan
Identifikasi dan verifikasi ini hanyalah langkah awal. Data yang terkumpul adalah fondasi untuk merancang masa depan di mana petani di Nagari Lubuk Gadang Selatan bisa berjalan beriringan dengan penjaga hutan.
Ke depan, edukasi dan pembinaan berkelanjutan menjadi kunci. Karena pada akhirnya, menjaga harmoni di bentang alam Kerinci Seblat bukan hanya soal menjaga pohon, tapi juga tentang menghargai martabat manusia yang hidup di sekitarnya. Harapan itu kini tumbuh subur, sedalam akar kopi yang menghujam di tanah Solok Selatan.
Kontributor : Hadinata Karyadi, S.Hut., M.Sc., Abrari Syah Putra, S.Hut., Rahman Budi Hasnanto, Mohd Rizki Ananda, Warman Dijaya, Andre Oktaferi, Sintia Mayang Sari, Agung Ahmad Asy’ari, Raras Zamora
Bidang II Taman Nasional Kerinci Seblat
