Menyatukan Langkah Bersama Masyarakat

Solok Selatan, 24 Juni 2026 – Kegiatan diawali dengan koordinasi bersama Pemerintah Nagari Persiapan Lubuk Gadang Tenggara. Sambutan hangat dari pemerintah nagari menjadi energi awal yang positif bagi tim sebelum memasuki kawasan. Dalam pertemuan tersebut, tim memaparkan tujuan dan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. Dukungan penuh dari Wali Nagari menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung pengelolaan kawasan yang lebih baik sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan tim pelaksana.

Gambar 1. Koordinasi dengan Pihak Wali Nagari Persiapan Lubuk Gadang Tenggara

Tak berhenti di sana, tim juga menggelar briefing bersama anggota Kelompok Tani Hutan (KTH). Suasana diskusi berlangsung penuh semangat saat membahas strategi lapangan, pembagian tugas, hingga penentuan lokasi pengukuran lahan. Momen ini menjadi langkah penting untuk menyamakan persepsi sekaligus memperkuat kerja sama sebelum seluruh peserta terjun langsung ke lapangan.

Gambar 2. Diskusi Bersama Anggota KTH Pondok Pisang

Membelah Rimba, Mengejar Target

Usai seluruh persiapan selesai, tim bergerak menuju lokasi kegiatan. Untuk mengoptimalkan pekerjaan, personel dibagi menjadi dua kelompok. Tim pertama fokus melaksanakan patroli kawasan dan mengejar target grid yang telah ditetapkan, sementara tim kedua melakukan pengukuran lahan milik anggota kelompok masyarakat.

Hari pertama ditutup dengan hasil yang cukup menggembirakan. Sebanyak lima lahan anggota kelompok berhasil diukur, sementara tim patroli sukses menyelesaikan dua grid pengawasan. Capaian ini menjadi awal yang baik sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi yang solid mampu menghasilkan pekerjaan yang efektif di lapangan.

Gambar 3. Ladang yang Berada di dalam Kawasan

Menaklukkan Medan, Menjaga Kawasan

Memasuki hari kedua, strategi diubah. Seluruh personel digabung menjadi satu tim besar untuk mempercepat pencapaian target patroli sekaligus menghadapi medan yang semakin menantang. Jalur yang dilalui didominasi lereng curam, vegetasi rapat, dan semak belukar yang menutup akses perjalanan.

Di tengah perjalanan, tim menemukan sejumlah kebun masyarakat dan pondok sederhana yang berada di sekitar kawasan. Temuan ini menjadi catatan penting untuk pemantauan lebih lanjut guna memastikan aktivitas masyarakat tetap berjalan selaras dengan upaya pelestarian kawasan hutan.

Perjalanan semakin menantang ketika beberapa jalur patroli harus dibuka secara manual karena tertutup vegetasi liar. Namun semangat tim tidak surut. Dengan kerja sama dan kekompakan yang terjaga, setiap rintangan berhasil dilalui hingga target patroli dapat dicapai.

Jejak Kehidupan di Tengah Hutan

Di balik beratnya medan yang dilalui, kawasan ini masih menyimpan tanda-tanda kehidupan liar yang menggembirakan. Tim mendengar suara siamang yang sangat jelas beberapa kali. Temuan tersebut menjadi indikasi bahwa kawasan masih berfungsi sebagai habitat satwa liar dan memiliki kondisi ekologis yang relatif baik.

Keberadaan satwa liar merupakan pengingat bahwa hutan bukan hanya ruang hijau yang perlu dijaga, tetapi juga rumah bagi berbagai makhluk hidup yang bergantung pada kelestarian kawasan tersebut.

Dari Lapangan ke Data: Menuntaskan Misi

Hari ketiga menjadi penutup rangkaian kegiatan lapangan. Meski tidak lagi menyusuri jalur patroli, pekerjaan penting masih terus berlangsung. Tim fokus melakukan verifikasi data patroli melalui ArcGIS untuk memastikan seluruh jalur dan capaian grid telah terekam dengan baik.

Selanjutnya, berbagai temuan lapangan diinput ke dalam aplikasi SMART sebagai bagian dari dokumentasi dan monitoring kegiatan. Bersamaan dengan itu, tim juga menyusun laporan, mengarsipkan data, serta menyelesaikan berbagai kebutuhan administrasi lainnya.

Tahapan ini menjadi bagian penting dari keseluruhan kegiatan, karena setiap data yang terdokumentasi dengan baik akan menjadi dasar evaluasi dan acuan dalam pelaksanaan patroli berikutnya.

Kontributor :  Pedi Mekensi, Abrari Syah Putra, Ponijo, dan Devitri Ayudianti

Check Also

Menjaga Harmoni di Ranah Minang: Ikhtiar Mitigasi Konflik Satwa di Zona Penyangga Kerinci Seblat

Pesisir Selatan, 8 Juni  2026 — Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) bukan sekadar hamparan hutan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *