Pesisir Selatan, 23 Juni 2026 – Di balik lebatnya hutan pegunungan di wilayah Pesisir Selatan, Sumatera Barat, tersimpan kisah tentang upaya menjaga salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati Sumatera. Selama 12 hari, mulai 14 hingga 25 Mei 2026, tim Patroli SMART Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat bersama Masyarakat Mitra Polhut menembus medan yang terjal dan menyusuri jalur sepanjang 56,6 km. Dari perjalanan tersebut, mereka tidak hanya menemukan jejak kehidupan satwa liar, tetapi juga berbagai ancaman yang masih membayangi kawasan konservasi seluas 9.540 hektare.

Jejak Kehidupan di Jantung Hutan Sumatera
Di tengah rimbunnya hutan, alam menunjukkan bahwa kawasan ini masih menjadi rumah yang aman bagi berbagai satwa liar penting. Tim berhasil menemukan berbagai indikator keberadaan Harimau Sumatera, mulai dari tapak kaki hingga bekas cakaran pada pohon.
Tidak hanya itu, keberadaan tapir asia, beruang madu, rusa, babi hutan, siamang, lutung, kuau, rangkong, dan burung pelatuk semakin menguatkan bahwa ekosistem di kawasan ini masih berfungsi dengan baik. Kehadiran satwa mangsa seperti rusa dan babi hutan menjadi pertanda bahwa rantai makanan di alam masih terjaga.

Sebanyak 12 unit kamera jebak dipasang pada berbagai tipe habitat dengan ketinggian 710–1.588 mdpl untuk mendukung pemantauan satwa liar secara berkelanjutan.
Pesan dari Sang Raja Hutan
Salah satu temuan paling penting selama kegiatan ini adalah ditemukannya sejumlah tapak dan bekas cakaran Harimau Sumatera. Bahkan, pada beberapa titik pemasangan kamera jebak, jejak dengan ukuran sekitar 17–20 cm berhasil ditemukan di sekitar lokasi.
Temuan tersebut menjadi bukti bahwa kawasan ini masih menjadi bagian dari habitat yang digunakan Harimau Sumatera untuk melakukan aktivitas hariannya. Bagi para petugas, jejak-jejak tersebut bukan sekadar tanda keberadaan satwa, tetapi juga pesan bahwa hutan ini masih memiliki nilai konservasi yang sangat tinggi dan layak untuk terus dijaga.


Ancaman yang Masih Mengintai
Di balik kekayaan hayati yang masih terjaga, tim patroli juga menemukan kenyataan yang memprihatinkan. Beberapa indikasi aktivitas perburuan satwa liar masih ditemukan di sepanjang jalur patroli, mulai dari bekas pemikat burung, jerat burung, hingga lubang perangkap satwa mamalia. Temuan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap satwa liar dan habitatnya masih berlangsung di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.
Keberadaan berbagai alat dan bekas aktivitas perburuan tersebut menjadi ancaman serius bagi kelestarian satwa liar, terutama bagi spesies yang dilindungi dan memiliki nilai konservasi tinggi. Apabila tidak dilakukan pengawasan secara berkelanjutan, aktivitas perburuan berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem serta menurunkan populasi satwa liar di alam.


Menjaga Warisan Alam untuk Masa Depan
Patroli SMART dan pemasangan kamera jebak membuktikan bahwa kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat masih memiliki peran penting sebagai habitat berbagai satwa liar, termasuk Harimau Sumatera. Namun, berbagai ancaman yang masih ditemukan menunjukkan bahwa upaya perlindungan kawasan tidak boleh berhenti.
Kolaborasi antara petugas Balai Besar TNKS, Masyarakat Mitra Polhut, serta dukungan seluruh pihak menjadi kunci untuk memastikan bahwa hutan-hutan Sumatera tetap lestari. Sebab, menjaga hutan bukan hanya tentang melindungi pohon dan satwa, tetapi juga menjaga warisan alam yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.
Kontributor : Tri Timor Amri Putra, Mhd. Rizki Dwa Putra, Rahman Budi Hasnanto, Irpan Juniardi, Indra Kurnia, Darwan, Agung Ahmad Asyari
Bidang II Taman Nasional Kerinci Seblat
