Jejak Pengabdian di Sunyi Hutan Sutera

Fajar baru saja menyingsing di Nagari Koto Nan Tigo Utara Surantih, Kecamatan Sutera. Cahaya matahari perlahan menembus rimbunnya pepohonan di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Dalam suasana bulan suci Ramadan, langkah-langkah tim patroli mulai menapaki jalur hutan yang masih basah oleh embun.

Perjalanan ini bukan sekadar rutinitas. Di tengah ibadah puasa, setiap langkah terasa lebih bermakna. Menahan lapar dan dahaga, tim SMART Patrol menyusuri jalur sepanjang kurang lebih 10,7 kilometer, melintasi tiga grid kawasan yang menjadi tanggung jawab pengamanan.

Hutan menyambut mereka dengan suara kehidupan. Dari kejauhan terdengar pekikan siamang yang menggema, disusul suara khas rangkong dan kuao raja yang bersahutan di antara kanopi. Alam seakan memberi tanda bahwa keseimbangan masih terjaga.

Langkah demi langkah dilalui dengan penuh kehati-hatian. Mata menyapu setiap sudut, memastikan tidak ada aktivitas yang mengancam kelestarian kawasan. Hingga hari-hari patroli berlalu, hasilnya menenangkan—tidak ditemukan aktivitas perambahan baru maupun pembalakan liar.

Namun, tugas belum selesai.

Di beberapa titik yang dianggap rawan, tim berhenti. Di bawah terik matahari yang terasa lebih menyengat saat berpuasa, mereka mulai memasang seng batas bertuliskan “Batas Kawasan Hutan TNKS”. Tiga lembar seng dipasang dengan penuh ketelitian—sebuah tanda sederhana, namun sarat makna.

Setiap ketukan palu yang terdengar di tengah hutan menjadi simbol kehadiran dan komitmen. Bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan hutan itu sendiri.

Sesekali, tim bertemu dengan masyarakat di sekitar kawasan. Dengan pendekatan yang santun, mereka menyampaikan pesan-pesan perlindungan hutan—bahwa kawasan TNKS adalah warisan bersama yang harus dijaga, bukan dimanfaatkan tanpa batas.

Waktu berjalan perlahan. Matahari mulai condong ke barat, pertanda hari hampir berakhir. Rasa lelah semakin terasa, namun tak mengurangi semangat yang sejak awal menyertai perjalanan ini.

Di bulan Ramadan, patroli ini menjadi lebih dari sekadar tugas. Ia adalah bentuk pengabdian, kesabaran, dan keikhlasan. Menjaga hutan bukan hanya tentang mencegah kerusakan, tetapi juga tentang merawat kehidupan yang ada di dalamnya.

Di Nagari Koto Nan Tigo Utara Surantih, jejak langkah itu mungkin akan hilang tertutup tanah dan daun. Namun maknanya akan tetap tinggal—bahwa di tengah sunyi hutan, ada mereka yang setia menjaga, tanpa banyak kata.

Tim koordinasi dengan Wali Nagari Koto Nan Tigo Utara Surantih
Tim memasang plang seng batas kawasan TNKS
Tim saat bertemu masyarakat dan menghimbau untuk tetap menjaga kawasan TNKS

Check Also

Menjaga Jantung Hijau Palangai Kaciak: Catatan Perjalanan Resort Kambang di Rimba TNKS

Di balik kabut tipis yang menyelimuti perbukitan Nagari Palangai Kaciak, tim Resort Kambang melangkah memasuki …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *