Menjaga Jantung Hijau Palangai Kaciak: Catatan Perjalanan Resort Kambang di Rimba TNKS

Di balik kabut tipis yang menyelimuti perbukitan Nagari Palangai Kaciak, tim Resort Kambang melangkah memasuki rimbunnya hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Perjalanan kali ini bukan sekadar rutinitas patroli, melainkan misi penting untuk menegaskan batas antara peradaban manusia dan benteng terakhir alam liar.

Dengan target menyisir grid 2×2 seluas 300 hektar, tim harus menaklukkan trayek sepanjang 6 kilometer. Angka ini mungkin terdengar kecil di atas kertas, namun di medan sesungguhnya, setiap meter adalah perjuangan melawan vegetasi rapat dan gravitasi.

Jejak Kehidupan di Garis Batas

Memasuki batas kawasan, tim disambut dengan pemandangan yang memberikan harapan: hamparan hijau dari Program Kebun Bibit Rakyat (KBR). Ini adalah bukti bahwa masyarakat mulai selaras dengan alam, menanam untuk masa depan tanpa harus merusak inti hutan. Di sekitar sana, beberapa pondok kebun berdiri tenang, menjadi saksi bisu aktivitas warga yang menggantungkan hidup dari tanah ini.

Namun, hutan punya penghuninya sendiri. Kehadiran mereka tak terlihat oleh mata, namun nyata melalui tanda-tanda alam. Jejak kaki dan kotoran babi serta rusa ditemukan berserakan di sepanjang jalur, menandakan bahwa sirkulasi kehidupan liar masih berdenyut kencang. Di kejauhan, suara kepakan sayap dan lengkingan khas burung Rangkong memecah kesunyian, mengingatkan siapa pun yang mendengar bahwa mereka adalah petani hutan yang sejati. Kondisi sungai yang kami temui pun menjadi pelipur lara; airnya jernih, mengalir di antara bebatuan tanpa gangguan polusi. Sungai ini adalah urat nadi yang harus tetap dijaga agar tetap mengalir hingga ke hilir.

 

Menantang Tebing, Menegakkan Kedaulatan

Tujuan utama misi ini adalah memasang dua plat seng batas kawasan sebagai tanda permanen bahwa area ini dilindungi oleh undang-undang. Namun, alam memberikan ujiannya.

Kendala Medan : Tim berhadapan dengan kontur ekstrem berupa tebing-tebing berbatuan yang curam. Upaya untuk membuka jalur akses baru terpaksa dihentikan demi keselamatan, karena dinding batu yang tegak lurus mustahil ditembus tanpa peralatan panjat profesional. Meski medan menghalangi pembukaan jalan baru, semangat tim tidak surut. Pemasangan plat batas tetap dilaksanakan di titik strategis Nagari Palangai Kaciak sebagai pengingat bagi siapa saja bahwa di balik tanda tersebut, ada ekosistem yang sedang berjuang untuk tetap lestari.

Sebuah Harapan untuk Masa Depan :

Berdasarkan hasil temuan di lapangan, kondisi kawasan TNKS di Resort Kambang terpantau relatif terjaga. Namun, menjaga hutan tidak bisa dilakukan hanya oleh petugas yang memanggul ransel di tengah rimba.

Rekomendasi Utama :

Ke depannya, kunci perlindungan TNKS terletak pada penguatan hubungan dengan masyarakat. Komunikasi yang intens dan kolaborasi dengan kelompok terkait harus ditingkatkan. Hutan akan tetap tegak berdiri jika masyarakat di sekelilingnya merasa memiliki dan ikut menjaga “rumah” bagi rusa, babi, dan rangkong ini. Perjalanan 6 kilometer ini mungkin telah usai, namun perjuangan menjaga paru-paru dunia di Palangai Kaciak adalah maraton tanpa garis finis. Mari kita pastikan bahwa jejak rusa dan suara rangkong tetap bisa ditemukan oleh anak cucu kita nanti.

Pemasangan plat seng di batas kawasan Palangai Kaciak
Pondok di pinggir kawasan yang telah melaksanakan program KBR
Tim Patroli Palangai Kaciak Resort Kambang
Temuan jejak Rusa berupa kotoran

Check Also

Dilema Emas Hijau di Jantung TNKS: Catatan Patroli Batang Kapas

PESISIR SELATAN – Upaya perlindungan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) terus dilakukan secara intensif. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *